Wednesday, 23 November 2011
BERSABARLAH
Sabar
“Dan
sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan,
kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah - buahan. Dan berikanlah
berita gembira kepada orang - orang yang sabar, (yaitu) orang - orang
yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan : “Innaa lillaahi wa
innaa ilaihi rajiuun”
(QS Al-Baqarah: 155 - 156)
Sesungguhnya
Allah menjadikan dunia bukan sebagai tempat pembalasan ( pahala atau
siksa), bukan pula sebagai tempat memutuskan sesuatu perkara, akan
tetapi Allah menjadikan dunia sebagai tempat untuk membersihkan diri,
tempat ujian dan cobaan. Peralihan dari satu waktu ke waktu adalah
merupakan rangkaian cobaan hidup yang sambung menyambung. Lepas dari
satu cobaan, muncul lagi cobaan hidup yang lain. Adanya cobaan bagi ahli
iman mengandung tujuan dan hikmah yang banyak , di antaranya ialah:
1. Untuk membersihkan barisan mukminin dari mereka yang hanya mengaku-mengaku beriman.
Dalam keadaan damai dan tentram,
yang baik dan yang buruk berbaur. Dengan adanya ujian akan tampak siapa
yang ikhlas setia dan yang tidak, seperti terujinya emas murni dan emas
imitasi melalui pembakaran. Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an : “Apakah
manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami
telah beriman”, sedang mereka tidak akan diuji lagi ? Dan sesungguhnya
Kami telah menguji orang - orang yang sebelum mereka. Maka sesungguhnya
Allah mengetahui orang - orang yang benar dan sesungguhnya Dia
mengetahui orang - orang yang dusta”(QS Al Ankabut:2 - 3).
2.Mendidik kaum beriman dan menjernihkan hati mereka. Mereka akan menjadi matang melalui ujian, seperti matangnya makanan dengan api.
3.Meningkatkan kedudukan orang-orang beriman di sisi Allah SWT.
Dengan ujian Allah meningkatkan
derajat mereka, melipatgandakan pahala mereka, dan menghapus dosa -
dosanya. Tiap manusia tidak luput dari dosa karena mereka bukan malaikat
yang suci. Tidak ada orang yang maksum dari dosa kecuali para Nabi.
Karunia rahmat Allah SWT bagi manusia sehingga mereka diuji untuk
menghapus dosa - dosa mereka yang terbukti bersabar dan berjuang karena
Allah semata. Sabda Rasulullaah SAW: “Tidaklah seorang muslim menderita
karena kesedihan, kedudukan, kesusahan , kepayahan, penyakit dan
gangguan duri yang menusuk tubuhnya kecuali dengan itu Allah mengampuni
dosa - dosanya.”
Untuk
mengatasi segala ujian dan cobaan ini, tatkala mendekati usia balig
manusia diberi dua kekuatan oleh Allah SWT. Kekuatan pertama ialah
kekuatan hidayah untuk mengetahui kebenaran-kebenaran secara tepat dan
akurat, sedangkan kekuatan kedua adalah sabar. Kekuatan kedua merupakan
pelengkap bagi kekuatan pertama yang akan membantu dan menopangnya dalam
menghadapi perang melawan hawa nafsu dan godaan syaitan.
Dikatakan
bahwa sabar adalah perilaku utama yang dengannya orang tercegah dari
berbuat hal - hal yang buruk dan tidak baik. Ia merupakan suatu kekuatan
jiwa yang dengannya segala perkara menjadi maslahat dan baik. Arti
sabar menurut bahasa ialah ‘mencegah’ dan ‘menahan’, sedangkan lawannya
ialah ‘keluh kesah’ dan ‘gelisah’. Sabar merupakan pegangan seorang
mukmin dalam gerak langkahnya. Sabar yang terpuji dalam Al-Qur’an ialah
karena Allah dan bukan untuk memperoleh pujian atau tanda jasa dari
manusia. “Dan untuk Rabbmu hendaklah kamu bersabar” (QS Al Muddatsir: 7)
Sabar terbagi menjadi 3 bagian:
1. Sabar terhadap perintah, dengan jalan menaatinya.
Sabar dalam ketaatan berarti sabar terhadap tugas yang berat. Seorang yang taat dan patuh membutuhkan sabar dalam tiga hal.
Pertama, sabar sebelum ketaatan, yaitu dengan mengikhlas-kan niat, dalam melawan bayang - bayang riya
dan
penyimpangan lainnya. Membulatkan tekad untuk jujur dan menepati janji
ini berat bagi orang yang mengerti hakekat niat, ikhlas dan keburukan
riya.
Kedua,
sabar pada saat bekerja, agar tidak melalaikan Allah dan tidak malas
untuk menepati pelaksanaan peraturan dan hukum Allah. Selalu sabar
melawan kelemahan, kekesalan dan kejenuhan. Ini juga merupakan sabar
yang berat.
Ketiga,
setelah selesai pekerjaan dibutuhkan kesabaran dengan tidak merasa
bangga dan menepuk dada karena riya dan mencari popularitas, sehingga
mengakibatkan hilangnya keikhlasan.
2. Sabar terhadap larangan dan kemungkaran dengan jalan menjauhinya
3. Sabar menghadapi taqdir, dengan cara tidak berkeluh kesah.
Sabar juga terbagi dua, sabar
yang diusahakan (ikhtiyari) dan sabar yang dipaksakan (idhthirari).
Sabar ikhtiyari lebih utama daripada sabar idhtirari, karena sabar
idhthirari bisa dimiliki oleh semua manusia dan terdapat pada orang yang
tidak ada padanya sabar ikhtiari. Sabarnya Nabi Yusuf as dalam
menghadapi goadaan istri al-‘Aziz lebih utama dari kesabarannya atas
kejahatan dan tipu muslihat saudara-saudaranya yang melem-parkannya ke
dalam sumur.
Orang
tidak boleh merasa cukup dengan satu jenis kesa-baran saja, karena ia
hidup di antara perintah-perintah yang harus ia kerjakan dan larangan -
larangan yang mesti ia tinggalkan, sebagaimana ia juga senantiasa berada
di antara ketentuan- ketentuan taqdir yang harus ia terima, dan nikmat
yang wajib ia syukuri. Ia tidak pernah lepas dari keadaan - keadaan
seperti itu. Maka kesabaran tersebut harus senantiasa ia miliki sampai
mati. Kesabaran merupakan suatu hal yang sulit dan harus diusahakan
dengan susah payah oleh manusia.Al-Qur’an mengisya-ratkan beberapa
faktor yang menunjang terlaksananya dan meringankan manusia, antara
lain:
1.Memahami arti kehidupan yang sebenarnya.
Kehidupan
dunia bukanlah surga kebahagiaan atau tempat tinggal abadi, tetapi
medan pelaksanaan tugas dan menempuh ujian dan cobaan. Al Qur’an
menjelaskan bahwa kehidupan dunia penuh kesulitan dan kepayahan.
Firman Allah: “Sesungguhnya Kami menciptakan manusia dalam susah payah.” (QS Al Balad: 4)
Allah
SWT menciptakan kehidupan dunia ini bercampur antara kesenangan dan
kesusahan, antara kenikmatan dan penderitaan, antara hal - hal yang
disenangi dan yang dibenci. Tidak akan ada suka tanpa duka, atau
kesehatan tubuh tanpa penyakit, atau istirahat penuh tanpa lelah, atau
pertemuan tanpa perpisahan, atau keamanan tanpa ketakutan.
2.Menyadari bahwa sesungguhnya manusia adalah milik Allah.
Allah SWT telah
menciptakan manusia dari tiada. Jika ditarik kembali sebagian yang
dimiliki manusia maka sudah seharusnya dia tidak marah kepada pemberinya
dan pemiliknya. Firman Allah: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu,
maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa kemudharatan,
maka hanya kepada-Nya lah kamu meminta pertolongan:” (QS An Nahl : 53)
3.Yakin akan adanya pahala yang baik di sisi Allah
Tidak ada dalam Al Qur’an
janji pahala dan ganjaran yang lebih besar daripada pahala sabar.
Firman Allah SWT: “Dan orang - orang yang beriman dan mengerjakan amal -
amal yang sholeh, sesungguhnya akan Kami tempatkan mereka pada tempat
yang tinggi dalam syurga, yang mengalir sungai - sungai di bawahnya,
itulah sebaik - baik pembalasan bagi orang - orang yang beramal, (yaitu)
yang sabar dan bertawakkal kepada Rabbnya.”(QS Al Ankabut: 58 - 59)
4.Beriman kepada taqdir dan sunatullah
Apa yang menimpa diri
seseorang bukanlah suatu kesalahan atau kekeliruan atau terjadi secara
kebetulan. Semua yang sudah ditentukan taqdir-Nya tidak mungkin salah
atau meleset. Taqdir Allah merupakan suatu kepastian baik manusia itu
rela menerimanya ataupun marah -marah, baik dengan sabar ataupun dengan
gelisah. Orang yang berakal harus sabar dan rela agar tidak kehilangan
pahala. Kalau tidak sabar dengan rela maka sabar terpaksa yang
dilakukannya tidak ada nilainya baik dari segi dien ataupun dari segi
moral.
“Tiada
suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu
sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum
Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita
terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu
gembira terhadap apa yang diberikan - Nya kepadamu. Dan Allah tidak
menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”.” (Al Hadiid:
22 - 23)
5.Yakin akan terbebas dari musibah
Keyakinan akan datangnya
kemenangan dari Allah bagi orang - orang beriman sebagai ganti ujian dan
cobaan yang dialaminya akan menghilangkan kegelisahan batin, menghapus
rasa putus asa, memerangi jiwa dengan sinar harapan dan percaya akan
hari esok yang lebih cerah. Optimisme atau harapan adalah penggerak yang
kuat, sedangkan rasa putus asa merupakan penyakit berbahaya bahkan
dapat mematikan. Tak lupa pula memohon pertolongan kepada Allah SWT,
berlindung kepada-Nya, berkeyakinan bahwa dia dalam perlindungan,
pembelaan dan pemeliharaan Allah SWT, maka dia tidak akan teraniaya.
Firman Allah SWT:“Dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang -
orang yang sabar.” (Al Anfaal:46)
6.Meneladani orang - orang yang sabar dan memiliki kebulatan tekad
Merenungi dengan seksama
perjalanan hidup orang - orang yang sabar, khususnya para nabi dan rasul
pembawa risalah Allah dan orang - orang pilihan kesayangan Allah,
dapat menopang kesabaran. Ayat - ayat yang turun di Mekkah banyak
meriwayatkan perjuangan para nabi. Bahkan diulang - ulang dalam beberapa
surat sebagai pelipur dan penghibur bagi Muhammad SAW dan kaum beriman.
Juga sebagai penguat batin dalam menghadapi musuh -musuh da’wah yang
kuat perlawanannya dan banyak jumlahnya. “Dan semua kisah dari rasul -
rasul Kami ceritakan kepadamu ialah kisah -kisah yang dengannya Kami
teguhkan hatimu dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran
serta pengajaran dan peringatan bagi orang - orang yang beriman.” (Huud:
120).“Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal Dia telah
menunjukkan jalan kepada kami dan kami sungguh - sungguh akan bersabar
terhadap gangguan - gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya
kepada Allah saja orang - orang yang bertawakal itu berserah diri”
(Ibrahim: 12)






0 komentar:
Posting Komentar